Suram Hari

November 8th, 2008

Goresan : Nilam Ramadhani, April 2008

Kelamnya hari seolah tercurahkan padaku.Gelapnya malam seakan teriring dalam langkahku. Redupnya rembulan seperti menambah derasnya tangisan hati. Gundah rasa kian meraja dalam jiwa yang tlah hancur sukmanya. Leburan panas bara api semakin membakar ranting kering pijakan tempat kubertahan. Kehampaan menjadi teman sejatiku hari itu. Terangnya cahaya mentari pagi tak lagi hangatkan hati yang dilanda kasmaran akan kasih putih. Semilir angin dingin tak lagi sentuhkan kesejukan dalam dahaganya sosok pemuja cinta yang terlena ini.

Hari itu tiada senyum yang kau curahkan, tiada cinta yang kau berikan. Segala asa yang datang silih berganti menanti jawaban tlah pupus ditengah jalan panjang tanpa tujuan. Kau dera diri ini dengan pahitnya cinta yang kau suguhkan dalam cawan hitam penuh luka. Kau tuangkan duka dalam cinta yang berbaur manisnya racun musnahkan kepingan kasih yang tlah lama kucipta. Mimpi seakan tlah terjaga karna diri tlah tersiksa oleh perihnya sayatan cinta dalam dada.

Tapi itu kemarin, hari yang tlah berlalu bersama angin. Cinta yang dulu pun tiada lagi berarti tuk jiwa yang tlahdisakiti. Tetesan air mata ini tlah mengering menguap bersama tetesan embun pagi yang basahi daun-daun di taman serumpun. Malam kini tiada lagi gelap karna rembulan tlah tersenyum biaskan sinar teduh dalam kalbu. Matahari pun menyambut ketika pagi menyapa hari. Kini tlah kutemukan lagi cahaya dalam hati. Seberkas cinta yang merona terangi jiwa penuh makna. Senja kini berlalu dengan buih cinta terdalam, terlelap kala malampun bersama impian bertabur bunga terindah dari bidadari pujaan hati.




Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

Name (required)

Email (required)

Website

Speak your mind