Adinda
goresan Nilam Ramadhani,di beningnya malam 15 November 2008
Adinda…bukankah beribu kali tlah kukata…segenggam cinta ini hanyalah tertujukan pada teduhnya hatimu. Serasa rapuh kala jiwa tertimpa dinginnya malam yang membawa angan terhembus angin bersambut sepi. Layaknya kehampaan melanda penjuru langit yang butakan cakrawala cinta. Batas penantian ini usai menemui akhirnya, tatkala jiwa tlah dipertemukan oleh agungnya cinta.
Adinda…lihatlah, cahaya berbekas rindu yang kau bias sanggup luluhkan hati yang membeku, hingga asmara ini singgah dalam indahnya kecupan cinta. Maafkanlah..hanya kemurnian cinta ini yang kupunya, diri yang terlena pada belaian mesra berandai tlah terbang bersama awan putih beriring embun-embun yang sejukkan cinta. Di tepi asa kumenanti, sembari bersandar pada pohon tempat bernaungnya cinta.
Adinda…dengarkanlah, suara hati yang tiada henti bernyanyi melantunkan melodi akan kebermaknaan irama cinta. Untaian lirik kata yang lukiskan ketulusan akan kasih yang bermahkotakan cinta. Nafas yang hantarkan pilunya rasa berlabuh bersama hangatnya dekapan malam yang luapkan cinta. Lembaran kisah yang tertulis, tak terijinkan selain cerita akan manisnya bait cinta.
Adinda…renungkanlah, walau bibir tlah menyangkal akan segala keraguan cinta, namun hati tak kan pernah bisa berdusta. Adalah Engkau, jiwa yang bertahtakan cinta, berbingkai kasih nan bijaksana, bertabur pesona tiada jua sirna. Deburan ombak yang berbisik manja pejamkan mimpi malamku dalam peraduan bersama kelembutan cinta. Berbekal benih putih cinta dari-Nya, hanya satu harap yang kan kupinta…cintamu duhai Adinda..!
Suara Hati |One Response to “Adinda”
Leave a Reply
Aih bener nee cuma minta cinta? Yaqiiin?
thx udaH mampir ke blogku…truz berkarya!