Pilihan Hati

December 16th, 2008

by : Nilam Ramadhani on Friday, December 21, 2007

Bimbang datang lantang mengguncang

Ragu menunggu di sudut ruang

Berhembus kencang angin menghadang

Mengikat erat asa yang panjang

Kutaklukkan satu demi satu godaan

Kubukakan pintu demi pintu jawaban

Hingga tertera gores pena tertuang

Tertulis dalam lembar yang terang…Namamu..

Terbingkai dalam dinding hati

Terpatri dalam jiwa tak mati

Terukir pada batu kesucian

Terakhir dalam batas penantian

Karna Engkau…pilihan hati

Nafas yang tak pernah berhenti

Detak yang tak kunjung mati

Sosok kasih tak terganti

Bukakan aku secercah harapan

Bimbinglah aku merangkak berjalan

Pegangi aku tatkala jatuh menahan

Sembuhkan aku kala luka tertanam

Rengkuh aku kala terjatuh

Kuatkanlah saat kurapuh

Tergolek lemas adalah kelemahanku

Terdiam cemas juga kekuranganku

Redup kala gelap, detak berdegup kala terlelap

Tuk Engkau wahai pelita jiwa..

Sambutlah diriku yang tak bermakna

Sebarlah cahaya yang kau punya

Tiupkanlah kesejukan di dada

Raihlah cintaku tuk kau rasa

Milikilah hatiku tuk kau cinta

Karna cintaku tuk engkau selamanya…

Adinda

November 25th, 2008

goresan Nilam Ramadhani,di beningnya malam 15 November 2008

Adinda…bukankah beribu kali tlah kukata…segenggam cinta ini hanyalah tertujukan pada teduhnya hatimu. Serasa rapuh kala jiwa tertimpa dinginnya malam yang membawa angan terhembus angin bersambut sepi. Layaknya kehampaan melanda penjuru langit yang butakan cakrawala cinta. Batas penantian ini usai menemui akhirnya, tatkala jiwa tlah dipertemukan oleh agungnya cinta.

Adinda…lihatlah, cahaya berbekas rindu yang kau bias sanggup luluhkan hati yang membeku, hingga asmara ini singgah dalam indahnya kecupan cinta. Maafkanlah..hanya kemurnian cinta ini yang kupunya, diri yang terlena pada belaian mesra berandai tlah terbang bersama awan putih beriring embun-embun yang sejukkan cinta. Di tepi asa kumenanti, sembari bersandar pada pohon tempat bernaungnya cinta.

Adinda…dengarkanlah, suara hati yang tiada henti bernyanyi melantunkan melodi akan kebermaknaan irama cinta. Untaian lirik kata yang lukiskan ketulusan akan kasih yang bermahkotakan cinta. Nafas yang hantarkan pilunya rasa berlabuh bersama hangatnya dekapan malam yang luapkan cinta. Lembaran kisah yang tertulis, tak terijinkan selain cerita akan manisnya bait cinta.

Adinda…renungkanlah, walau bibir tlah menyangkal akan segala keraguan cinta, namun hati tak kan pernah bisa berdusta. Adalah Engkau, jiwa yang bertahtakan cinta, berbingkai kasih nan bijaksana, bertabur pesona tiada jua sirna. Deburan ombak yang berbisik manja pejamkan mimpi malamku dalam peraduan bersama kelembutan cinta. Berbekal benih putih cinta dari-Nya, hanya satu harap yang kan kupinta…cintamu duhai Adinda..!

Persembahan Bagi Cinta

November 16th, 2008

Goresan : Nilam Ramadhani, pada heningnya malam 7 November 2008

Laksana jiwa tlah terbuai oleh lembutnya cinta jua manisnya madu kasih yang kau punya. Waktu yang tersisa tak sanggup lagi menarikku dari merekahnya mimpi malam, karena asmara tlah menaburkan sejuknya cinta yang menggelora. Sang Dewi Cinta tlah menyapaku dengan bahasa lembutnya, yang tiada henti lantunkan bait kata mesra teduhkan bilik hati yang dilanda kerinduan terdalam ini.


Ketiadaan akan cinta serasa tlah musnah tatkala sesosok yang diselimuti keabadian akan kasihnya yang putih menjelma bersama angan menerawang. Bersama awan-awanlah dirimu terbang sembari menebar seulas senyum tuk jiwa yang terlena dan terkesima akan keagungan cinta. Kupu-kupu ikut menari menyambut hadirmu yang dipenuhi aroma cinta berbulir asmara.


Kesunyian yang melanda hati tak kan pernah kembali, manakala rengkuhan jiwa bersambut segenap ketulusan cinta. Perangai penuh prasangka, tak kan sanggup lagi menuai buah kepahitan karena luka yang menganga, sebab persembahan bagi cinta tlah menutup semua pintu dusta yang dulu bertahta. Engkau telah sematkan kepada diri yang rapuh ini sebentuk kesejukan cinta…

Cintamu lebih mulia dari dunia dengan isinya beserta seluruh bayang-bayangnya yang mengelabui manusia. Cintamu lebih indah dari sempurnanya lukisan alam, karena mahkota ketulusan Cintamu sanggup berikan warna-warna pelangi semakin berarti. Cintamu lebih suci dari hamparan padang pasir yang pantulkan sinar berona merah matahari pagi, tak lain adalah Cinta yang Kau miliki sebening embun dan seputih noktah salju yang jatuh berhamburan dari singgasana langit.


Tiada hentinya Ku memanjatkan pinta atas cinta yang tercipta dalam kehampaan hati ini. Semua terpancar dari cinta kasih yang Engkau tanam. Takkan ada lagi persembahan yang teramat berarti tuk segenggam asa…selain Persembahan bagi Cinta…

Kerinduan

November 16th, 2008

Seiring bergulirnya waktu

Derasnya tetes hujan..bergantinya malam

Disaat itu jua kau jauh dariku

Lelah kuberharap

Cemas yang kuendap

Rindupun tak terucap

Tergulung sepi terbalut mimpi

Hanya desiran angin temaniku sendiri

Lentingan dawai ajakku bernyanyi

Menghibur ketakpastian akan dirimu

Tlah tertanam benih asa pada kalbu

Yang terhias indah mengukir namamu

Angin..sampaikan kerinduanku untuknya..

Belahan Jiwaku

November 13th, 2008

goresan Nilam Ramadhani di malam 5 November 2008

Hanya sekedar ingin menyapamu yang jauh disana lewat tumpahan pena yang lukiskan kehausan dan dahaga akan sebuah kerinduan pada hatimu yang dipenuhi bunga-bunga berhiaskan aroma sewangi surga. Kukatakan padamu, rindu yang mungkin terlarang ini memaksa segala kelemahan tuk coba bangkit meraih segala kegetiran yang tlah lama punah menuju sebuah kasih tak pasti…

Membiarkan semuanya berlalu menjadi kenangan yang seolah tiada pernah terjadi. Hamparan cinta yang tlah lama mati serasa hampa dan tak pernah berarti. Asa yang musnah tertiup galaunya angin bagai isyarat lalu yang membisu. Karangan bunga penuh cinta yang kering bukan sebuah pertanda nafas tlah terhenti.

Tercurahkan segenap isi jiwa hanya pada utuhnya cinta yang kau punya. Beribu kata yang lukiskan keindahan hatimu kan kupersembahkan sebagai tanda bahwa diri ini tlah berbaur bersama cinta. Kemesraan berbalut pesona, kan hiasi terjalnya asmara ditengah derai air mata yang mungkin kelak goyahkan cinta. Genggamlah tanganku ini, raihlah jiwaku ini, serukanlah cintaku ini…

Karna hanya Engkaulah mimpi yang menghiasi, bintang yang berbinar berseri, bait puisi yang abadi…Sentuhlah kerinduanku ini bersama lembutnya sapaan kasih mesra darimu. Belenggu yang benamkan hati takkan sanggup lagi berkuasa…Andainya Kau adalah Belahan Jiwaku…

Suram Hari

November 8th, 2008

Goresan : Nilam Ramadhani, April 2008

Kelamnya hari seolah tercurahkan padaku.Gelapnya malam seakan teriring dalam langkahku. Redupnya rembulan seperti menambah derasnya tangisan hati. Gundah rasa kian meraja dalam jiwa yang tlah hancur sukmanya. Leburan panas bara api semakin membakar ranting kering pijakan tempat kubertahan. Kehampaan menjadi teman sejatiku hari itu. Terangnya cahaya mentari pagi tak lagi hangatkan hati yang dilanda kasmaran akan kasih putih. Semilir angin dingin tak lagi sentuhkan kesejukan dalam dahaganya sosok pemuja cinta yang terlena ini.

Hari itu tiada senyum yang kau curahkan, tiada cinta yang kau berikan. Segala asa yang datang silih berganti menanti jawaban tlah pupus ditengah jalan panjang tanpa tujuan. Kau dera diri ini dengan pahitnya cinta yang kau suguhkan dalam cawan hitam penuh luka. Kau tuangkan duka dalam cinta yang berbaur manisnya racun musnahkan kepingan kasih yang tlah lama kucipta. Mimpi seakan tlah terjaga karna diri tlah tersiksa oleh perihnya sayatan cinta dalam dada.

Tapi itu kemarin, hari yang tlah berlalu bersama angin. Cinta yang dulu pun tiada lagi berarti tuk jiwa yang tlahdisakiti. Tetesan air mata ini tlah mengering menguap bersama tetesan embun pagi yang basahi daun-daun di taman serumpun. Malam kini tiada lagi gelap karna rembulan tlah tersenyum biaskan sinar teduh dalam kalbu. Matahari pun menyambut ketika pagi menyapa hari. Kini tlah kutemukan lagi cahaya dalam hati. Seberkas cinta yang merona terangi jiwa penuh makna. Senja kini berlalu dengan buih cinta terdalam, terlelap kala malampun bersama impian bertabur bunga terindah dari bidadari pujaan hati.

Surat Cinta

November 8th, 2008

Goresan : Nilam Ramadhani,31 Maret 2008

Secarik kertas yang kutulis

Berbait kata yang terbaris

Jua makna akan kerinduan cinta

Terlukis dalam goresan tinta

Ketika benak menerawang ke masa lalu

Ingatkan aku pada senyuman tanpa pilu

Kasmaran hati akan cinta putih

Sembuhkan luka yang lama perih

Benamkan bimbang akan keraguan

Tumbuhkan sayang akan ketulusan

Wahai engkau yang bening hatinya

Duhai dikau yang putih cintanya

Asmara yang mabukkan diri ini

Lentera yang terangi jiwa ini

Asmara itu cintamu

Lentera itu kasihmu

Karena cinta kasihmu…

Adalah cinta kasihku…

Milikmu

November 8th, 2008

Gelap malam penuh bintang

Senyap alam tanpa bimbang

Lenyap kelam berganti terang

Terikat lekat erat rindu kalbu padamu

Kau laksana bunga yang kupetik

Bait indah yang terbisik

Cahaya yang terangi, nafas jiwa yang mati

Peluk aku rengkuh aku

Rasakan cinta menggebu

Hilangkan ragu membelenggu

Karena aku adalah milikmu

Makna Cinta

November 8th, 2008

Kupandangi dunia dari jendela jiwa

Terlintas bayang terang penuh tawa

Kumaknai tiap langkah yang tertempuh

Kuresapi tiap jengkal yang terkayuh

Meski raga serasa rapuh

Kubertahan hingga hatipun berlabuh

Tertumpu cinta pada sosok juwita

Tertuju rasa pada insan penuh romansa

Terikat hasrat pada diri yang terkasih

Hingga malam kelampun tersisih

Kunikmati kerinduan mengundang

Hingga terlukis wajah terbayang

Seakan diri tlah terbang…

Selayak merpati kepakkan sayap menerawang

Kepada Yang Terkasih…

Mohonkan aku jadi pelita hatimu

Meski terang yang kubawa tak sanggup terangi semesta

Tapi takkan pernah redup walau galau menghalau

Karna makna cinta tlah terikrarkan

Pada bait yang terukir indah

Seindah Hatimu…

Kekaguman

November 3rd, 2008

Kutatap langit malam, kuraba dinding asa

Kukagumi kau dengan hati, terlukis dalam bingkai biru

Seteduh hembusan angin sendu, dekatkan aku lewat bait rindu, pada insan yang kutunggu

Jejak kulangkahkan, jalan pun terbentang

Tak hentinya kuberjuang melawan segala kegetiran

Hingga kutemukan jawaban…bahwa bulir-bulir kasih hanyalah untukmu

Terpejam sejenak terbesit di benak, semua akan kisahmu

Teriring suara merdu yang terlantun untukmu…

Tanyakan pada malam, kekaguman kutujukan…