Pilihan Hati
by : Nilam Ramadhani on Friday, December 21, 2007
Bimbang datang lantang mengguncang
Ragu menunggu di sudut ruang
Berhembus kencang angin menghadang
Mengikat erat asa yang panjang
Kutaklukkan satu demi satu godaan
Kubukakan pintu demi pintu jawaban
Hingga tertera gores pena tertuang
Tertulis dalam lembar yang terang…Namamu..
Terbingkai dalam dinding hati
Terpatri dalam jiwa tak mati
Terukir pada batu kesucian
Terakhir dalam batas penantian
Karna Engkau…pilihan hati
Nafas yang tak pernah berhenti
Detak yang tak kunjung mati
Sosok kasih tak terganti
Bukakan aku secercah harapan
Bimbinglah aku merangkak berjalan
Pegangi aku tatkala jatuh menahan
Sembuhkan aku kala luka tertanam
Rengkuh aku kala terjatuh
Kuatkanlah saat kurapuh
Tergolek lemas adalah kelemahanku
Terdiam cemas juga kekuranganku
Redup kala gelap, detak berdegup kala terlelap
Tuk Engkau wahai pelita jiwa..
Sambutlah diriku yang tak bermakna
Sebarlah cahaya yang kau punya
Tiupkanlah kesejukan di dada
Raihlah cintaku tuk kau rasa
Milikilah hatiku tuk kau cinta
Karna cintaku tuk engkau selamanya…
Suara Hati | Comment (0)Adinda
goresan Nilam Ramadhani,di beningnya malam 15 November 2008
Adinda…bukankah beribu kali tlah kukata…segenggam cinta ini hanyalah tertujukan pada teduhnya hatimu. Serasa rapuh kala jiwa tertimpa dinginnya malam yang membawa angan terhembus angin bersambut sepi. Layaknya kehampaan melanda penjuru langit yang butakan cakrawala cinta. Batas penantian ini usai menemui akhirnya, tatkala jiwa tlah dipertemukan oleh agungnya cinta.
Adinda…lihatlah, cahaya berbekas rindu yang kau bias sanggup luluhkan hati yang membeku, hingga asmara ini singgah dalam indahnya kecupan cinta. Maafkanlah..hanya kemurnian cinta ini yang kupunya, diri yang terlena pada belaian mesra berandai tlah terbang bersama awan putih beriring embun-embun yang sejukkan cinta. Di tepi asa kumenanti, sembari bersandar pada pohon tempat bernaungnya cinta.
Adinda…dengarkanlah, suara hati yang tiada henti bernyanyi melantunkan melodi akan kebermaknaan irama cinta. Untaian lirik kata yang lukiskan ketulusan akan kasih yang bermahkotakan cinta. Nafas yang hantarkan pilunya rasa berlabuh bersama hangatnya dekapan malam yang luapkan cinta. Lembaran kisah yang tertulis, tak terijinkan selain cerita akan manisnya bait cinta.
Adinda…renungkanlah, walau bibir tlah menyangkal akan segala keraguan cinta, namun hati tak kan pernah bisa berdusta. Adalah Engkau, jiwa yang bertahtakan cinta, berbingkai kasih nan bijaksana, bertabur pesona tiada jua sirna. Deburan ombak yang berbisik manja pejamkan mimpi malamku dalam peraduan bersama kelembutan cinta. Berbekal benih putih cinta dari-Nya, hanya satu harap yang kan kupinta…cintamu duhai Adinda..!
Suara Hati | Comment (1)Persembahan Bagi Cinta
Goresan : Nilam Ramadhani, pada heningnya malam 7 November 2008
Laksana jiwa tlah terbuai oleh lembutnya cinta jua manisnya madu kasih yang kau punya. Waktu yang tersisa tak sanggup lagi menarikku dari merekahnya mimpi malam, karena asmara tlah menaburkan sejuknya cinta yang menggelora. Sang Dewi Cinta tlah menyapaku dengan bahasa lembutnya, yang tiada henti lantunkan bait kata mesra teduhkan bilik hati yang dilanda kerinduan terdalam ini.
Ketiadaan akan cinta serasa tlah musnah tatkala sesosok yang diselimuti keabadian akan kasihnya yang putih menjelma bersama angan menerawang. Bersama awan-awanlah dirimu terbang sembari menebar seulas senyum tuk jiwa yang terlena dan terkesima akan keagungan cinta. Kupu-kupu ikut menari menyambut hadirmu yang dipenuhi aroma cinta berbulir asmara.
Kesunyian yang melanda hati tak kan pernah kembali, manakala rengkuhan jiwa bersambut segenap ketulusan cinta. Perangai penuh prasangka, tak kan sanggup lagi menuai buah kepahitan karena luka yang menganga, sebab persembahan bagi cinta tlah menutup semua pintu dusta yang dulu bertahta. Engkau telah sematkan kepada diri yang rapuh ini sebentuk kesejukan cinta…
Cintamu lebih mulia dari dunia dengan isinya beserta seluruh bayang-bayangnya yang mengelabui manusia. Cintamu lebih indah dari sempurnanya lukisan alam, karena mahkota ketulusan Cintamu sanggup berikan warna-warna pelangi semakin berarti. Cintamu lebih suci dari hamparan padang pasir yang pantulkan sinar berona merah matahari pagi, tak lain adalah Cinta yang Kau miliki sebening embun dan seputih noktah salju yang jatuh berhamburan dari singgasana langit.
Tiada hentinya Ku memanjatkan pinta atas cinta yang tercipta dalam kehampaan hati ini. Semua terpancar dari cinta kasih yang Engkau tanam. Takkan ada lagi persembahan yang teramat berarti tuk segenggam asa…selain Persembahan bagi Cinta…
Kerinduan
Seiring bergulirnya waktu
Derasnya tetes hujan..bergantinya malam
Disaat itu jua kau jauh dariku
Lelah kuberharap
Cemas yang kuendap
Rindupun tak terucap
Tergulung sepi terbalut mimpi
Hanya desiran angin temaniku sendiri
Lentingan dawai ajakku bernyanyi
Menghibur ketakpastian akan dirimu
Tlah tertanam benih asa pada kalbu
Yang terhias indah mengukir namamu
Angin..sampaikan kerinduanku untuknya..
Suara Hati | Comment (0)Belahan Jiwaku
goresan Nilam Ramadhani di malam 5 November 2008
Hanya sekedar ingin menyapamu yang jauh disana lewat tumpahan pena yang lukiskan kehausan dan dahaga akan sebuah kerinduan pada hatimu yang dipenuhi bunga-bunga berhiaskan aroma sewangi surga. Kukatakan padamu, rindu yang mungkin terlarang ini memaksa segala kelemahan tuk coba bangkit meraih segala kegetiran yang tlah lama punah menuju sebuah kasih tak pasti…
Membiarkan semuanya berlalu menjadi kenangan yang seolah tiada pernah terjadi. Hamparan cinta yang tlah lama mati serasa hampa dan tak pernah berarti. Asa yang musnah tertiup galaunya angin bagai isyarat lalu yang membisu. Karangan bunga penuh cinta yang kering bukan sebuah pertanda nafas tlah terhenti.
Tercurahkan segenap isi jiwa hanya pada utuhnya cinta yang kau punya. Beribu kata yang lukiskan keindahan hatimu kan kupersembahkan sebagai tanda bahwa diri ini tlah berbaur bersama cinta. Kemesraan berbalut pesona, kan hiasi terjalnya asmara ditengah derai air mata yang mungkin kelak goyahkan cinta. Genggamlah tanganku ini, raihlah jiwaku ini, serukanlah cintaku ini…
Karna hanya Engkaulah mimpi yang menghiasi, bintang yang berbinar berseri, bait puisi yang abadi…Sentuhlah kerinduanku ini bersama lembutnya sapaan kasih mesra darimu. Belenggu yang benamkan hati takkan sanggup lagi berkuasa…Andainya Kau adalah Belahan Jiwaku…
Suara Hati | Comment (0)Suram Hari
Goresan : Nilam Ramadhani, April 2008
Kelamnya hari seolah tercurahkan padaku.Gelapnya malam seakan teriring dalam langkahku. Redupnya rembulan seperti menambah derasnya tangisan hati. Gundah rasa kian meraja dalam jiwa yang tlah hancur sukmanya. Leburan panas bara api semakin membakar ranting kering pijakan tempat kubertahan. Kehampaan menjadi teman sejatiku hari itu. Terangnya cahaya mentari pagi tak lagi hangatkan hati yang dilanda kasmaran akan kasih putih. Semilir angin dingin tak lagi sentuhkan kesejukan dalam dahaganya sosok pemuja cinta yang terlena ini.
Hari itu tiada senyum yang kau curahkan, tiada cinta yang kau berikan. Segala asa yang datang silih berganti menanti jawaban tlah pupus ditengah jalan panjang tanpa tujuan. Kau dera diri ini dengan pahitnya cinta yang kau suguhkan dalam cawan hitam penuh luka. Kau tuangkan duka dalam cinta yang berbaur manisnya racun musnahkan kepingan kasih yang tlah lama kucipta. Mimpi seakan tlah terjaga karna diri tlah tersiksa oleh perihnya sayatan cinta dalam dada.
Tapi itu kemarin, hari yang tlah berlalu bersama angin. Cinta yang dulu pun tiada lagi berarti tuk jiwa yang tlahdisakiti. Tetesan air mata ini tlah mengering menguap bersama tetesan embun pagi yang basahi daun-daun di taman serumpun. Malam kini tiada lagi gelap karna rembulan tlah tersenyum biaskan sinar teduh dalam kalbu. Matahari pun menyambut ketika pagi menyapa hari. Kini tlah kutemukan lagi cahaya dalam hati. Seberkas cinta yang merona terangi jiwa penuh makna. Senja kini berlalu dengan buih cinta terdalam, terlelap kala malampun bersama impian bertabur bunga terindah dari bidadari pujaan hati.
Suara Hati | Comment (0)Surat Cinta
Goresan : Nilam Ramadhani,31 Maret 2008
Secarik kertas yang kutulis
Berbait kata yang terbaris
Jua makna akan kerinduan cinta
Terlukis dalam goresan tinta
Ketika benak menerawang ke masa lalu
Ingatkan aku pada senyuman tanpa pilu
Kasmaran hati akan cinta putih
Sembuhkan luka yang lama perih
Benamkan bimbang akan keraguan
Tumbuhkan sayang akan ketulusan
Wahai engkau yang bening hatinya
Duhai dikau yang putih cintanya
Asmara yang mabukkan diri ini
Lentera yang terangi jiwa ini
Asmara itu cintamu
Lentera itu kasihmu
Karena cinta kasihmu…
Adalah cinta kasihku…
Suara Hati | Comment (0)Milikmu
Gelap malam penuh bintang
Senyap alam tanpa bimbang
Lenyap kelam berganti terang
Terikat lekat erat rindu kalbu padamu
Kau laksana bunga yang kupetik
Bait indah yang terbisik
Cahaya yang terangi, nafas jiwa yang mati
Peluk aku rengkuh aku
Rasakan cinta menggebu
Hilangkan ragu membelenggu
Karena aku adalah milikmu
Suara Hati | Comment (0)Makna Cinta
Kupandangi dunia dari jendela jiwa
Terlintas bayang terang penuh tawa
Kumaknai tiap langkah yang tertempuh
Kuresapi tiap jengkal yang terkayuh
Meski raga serasa rapuh
Kubertahan hingga hatipun berlabuh
Tertumpu cinta pada sosok juwita
Tertuju rasa pada insan penuh romansa
Terikat hasrat pada diri yang terkasih
Hingga malam kelampun tersisih
Kunikmati kerinduan mengundang
Hingga terlukis wajah terbayang
Seakan diri tlah terbang…
Selayak merpati kepakkan sayap menerawang
Kepada Yang Terkasih…
Mohonkan aku jadi pelita hatimu
Meski terang yang kubawa tak sanggup terangi semesta
Tapi takkan pernah redup walau galau menghalau
Karna makna cinta tlah terikrarkan
Pada bait yang terukir indah
Seindah Hatimu…
Kekaguman
Kutatap langit malam, kuraba dinding asa
Kukagumi kau dengan hati, terlukis dalam bingkai biru
Seteduh hembusan angin sendu, dekatkan aku lewat bait rindu, pada insan yang kutunggu
Jejak kulangkahkan, jalan pun terbentang
Tak hentinya kuberjuang melawan segala kegetiran
Hingga kutemukan jawaban…bahwa bulir-bulir kasih hanyalah untukmu
Terpejam sejenak terbesit di benak, semua akan kisahmu
Teriring suara merdu yang terlantun untukmu…
Tanyakan pada malam, kekaguman kutujukan…
Suara Hati | Comment (0)